Penulis :Ustadz. Janan, S.Pd. (Kepala SDIT Al Ibrah)
Gresik – sditalibrah.sch.id. Di antara malam-malam Ramadhan, ada satu malam yang begitu istimewa hingga Allah ﷻ mengabadikannya dalam satu surah khusus dalam Al-Qur’an. Malam itu adalah Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ia bukan sekadar momentum ibadah, tetapi ruang perjumpaan antara langit dan bumi, antara doa hamba dan rahmat-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
(QS. Al-Qadr: 1–5)
“Lebih baik dari seribu bulan” berarti lebih baik dari sekitar 83 tahun ibadah. Artinya, satu malam yang dihidupkan dengan iman dan keikhlasan bisa melampaui umur panjang tanpa makna.
Makna “Qadar”
1. Makna secara Lughawiyah (Bahasa)
Secara bahasa, kata القدر (al-qadr) berasal dari akar kata قَدَرَ – يَقْدِرُ – قَدْرًا / قَدَرًا yang memiliki beberapa arti, di antaranya:
- Penentuan atau ketetapan (التقدير)
Artinya sesuatu yang telah diukur dan ditentukan ukurannya. - Ukuran atau kadar (المقدار)
Sesuatu yang memiliki ukuran tertentu sesuai ketentuan. - Kemuliaan atau kedudukan tinggi (الشرف والعظمة)
Karena sesuatu yang bernilai tinggi disebut memiliki qadr.
Contohnya dalam Al-Qur’an:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar).” (QS. Al-Qamar: 49)
Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta terjadi dengan ukuran dan ketentuan Allah.
2. Makna secara Maknawiyah (Istilah / Makna Teologis)
Secara istilah dalam akidah Islam, Qadar berarti: Ketetapan Allah terhadap segala sesuatu sejak azali, sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa qadar mencakup empat hal utama:
- Ilmu Allah (العلم)
Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi. - Pencatatan (الكتابة)
Semua ketentuan telah ditulis di Lauhul Mahfuz. - Kehendak Allah (المشيئة)
Segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya. - Penciptaan (الخلق)
Allah menciptakan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.
Hal ini berdasarkan firman Allah:
وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 38)
Dari penjelasan di atas para ulama menyimpulkan bahwa kata qadar memiliki makna kemuliaan dan ketetapan. Malam itu mulia karena pada malam itulah Al-Qur’an diturunkan, dan pada malam itu pula ditetapkan berbagai urusan kehidupan.
Allah ﷻ berfirman dalam surah lain:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
(QS. Ad-Dukhan: 4)
Maka Lailatul Qadar bukan hanya malam pahala, tetapi malam takdir, malam di mana kita diajak mendekat agar ditetapkan dalam kebaikan.
Baca juga : Inilah….!! Tiga Doa yang Menembus Langit
Mencari Lailatul Qadar dengan Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Perhatikan dua syaratnya: iman dan ihtisab (mengharap pahala). Bukan sekadar begadang, bukan sekadar ramai di masjid, tetapi hati yang yakin dan penuh harap.
Ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya apa yang sebaiknya dibaca pada malam itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat sederhana namun mendalam:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Doa ini relevan dengan kehidupan kita. Di tengah kesalahan dan kekurangan, yang paling kita butuhkan bukan pujian, melainkan ampunan.
Menghidupkan Malam dengan Hati
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat menghidupkan malam bukan sekadar memperbanyak gerakan, tetapi menghadirkan hati.
Beliau menulis bahwa inti ibadah adalah hudhur al-qalb (kehadiran hati). Tanpa hati yang hidup, ibadah hanya menjadi rutinitas. Ia mengingatkan bahwa malam-malam Ramadhan adalah kesempatan membersihkan hati dari kelalaian dan cinta dunia yang berlebihan.
Menurut Al-Ghazali, siapa yang pada malam itu merenungi dosanya, menangisi kekurangannya, dan memperbarui tekad hidupnya, maka ia telah mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar—meskipun ia tidak mengetahui secara pasti malam keberapa ia terjadi.
Baca juga : Tiga Wajah Cahaya Al-Qur’an dalam Kehidupan Manusia
Relevansi Lailatul Qadar dalam Kehidupan Sehari-hari
Lailatul Qadar mengajarkan kita tiga hal penting:
- Waktu bisa bernilai luar biasa jika diisi dengan kesungguhan.
Satu malam bisa mengubah masa depan. - Ampunan lebih penting daripada pengakuan manusia.
Kita sering sibuk menjaga citra, tetapi lupa membersihkan jiwa. - Kedekatan kepada Allah adalah sumber ketenangan sejati.
Surah Al-Qadr ditutup dengan kata “Salam”—kedamaian hingga terbit fajar.
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Kedamaian itu bukan hanya suasana malam, tetapi keadaan hati.
Menjemputnya dengan Ikhtiar Terbaik
Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam hadits disebutkan:
كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan dicari dengan pasif, tetapi dengan kesungguhan. Ia tidak hanya ditunggu, tetapi dijemput dengan ibadah, doa, dan pengharapan.
Malam yang lebih baik dari seribu bulan itu seakan menjadi panggilan bagi setiap mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang lebih khusyuk, dzikir yang lebih panjang, dan doa yang lebih tulus.
Karena itu, pada malam-malam yang mulia ini, marilah kita menengadahkan tangan dengan penuh harap. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar, menerima setiap amal ibadah yang kita lakukan, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan hati kita dengan keimanan, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang kembali dalam keadaan bersih dan penuh keberkahan.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
“Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Lailatul Qadar dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau terima amalnya. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”
Semoga malam-malam yang tersisa dari Ramadhan ini menjadi jalan perubahan bagi hati kita, sehingga setelah Ramadhan berlalu kita keluar sebagai pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih lembut kepada sesama, dan lebih sungguh-sungguh dalam meniti jalan kebaikan. آمين يا رب العالمين.
Semoga bermanfaat – Wallahu a’lam bish shawab-
Recent Comments