Saat Orang Tua Lebih Tegang dari Sang Penghafal

Penulis : Ustd. Almaidatul Istibsyarah, S.S.

Gresik – Rabu, 8 April 2026, ada getar yang berbeda dalam ruang uji munaqosyah yang di lalui oleh para murid kelas takhassus SDIT Al Ibrah Gresik pada awal bulan April ini. Bukan gemuruh biasa, melainkan dentingan ayat-ayat suci yang bergema dari pagi hingga sore.

Selama tiga hari berturut-turut, mulai Senin (6/4/2026) hingga Rabu (8/4/2026), gedung aula SMPIT Al Ibrah berubah menjadi panggung keimanan. Inilah puncak perhelatan Munaqosyah Tahfidz Program Kelas Takhassus, sebuah ujian yang tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga menakar seberapa dalam cinta bersemayam di dada para calon penghuni Firdaus ini.

Uji Petik, Menyambung Ayat Menyambung Hati

Berbeda dengan ujian biasa, Munaqosyah kali ini terasa lebih monumental. Para siswa tidak hanya diuji sambung ayat dan uji petik sesuai capaian hafalan masing-masing, tetapi hanya mereka yang telah berhasil melewati uji Pramunaqosyah—sebuah ujian setor 1 juz sekali duduk yang sangat menuntut konsistensi—yang berhak melangkah ke kursi panas di hadapan para tim penguji.

Ini adalah seleksi alam bagi jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh dalam menjaga hafalan. Tim penguji kali ini dikepalai oleh ustadz Ahmad Syahrullah Ma’arif.

Lintang: Belia Sholihah dengan Hafalan 19 Juz

Satu nama menjadi pusat perhatian dalam munaqosyah kali ini adalah Mufidah Azni Lintang Raniah, siswi kelas 5 yang akrab disapa Lintang. Dengan jilbab rapinya yang dibalut senyum teduh yang tak pernah lepas, gadis cilik dan sholihah ini melakukan sesuatu yang membuat ruang uji terpekur: Tasmi’ 19 juz.

Bukan model biasa. Lintang menjalani ujian dengan metode setor 5 juz sekali duduk, mulai dari hari Senin hingga Kamis. Beban yang begitu berat bagi usianya, namun ia melakukannya seperti sungai mengalir: deras, jernih, dan tak pernah putus. Suaranya yang merdu melantunkan ayat demi ayat, dari Juz 1 hingga melompat ke Juz-juz berat lainnya. Para penguji yang dipimpin Ustadz Ahmad Syahrullah hanya bisa mengangguk-angguk takjub. Hasilnya? Sangat membanggakan. Lintang lulus dengan predikat Mumtaz.

Baca juga : Kuatkan Hafalan Al Quran dan Karakter Islami, SDIT Al Ibrah Gelar Quran Camp bagi Kelas Takhassus

Ketegangan yang tak Nampak: Orang Tua dan Guru, bukan Muridnya.

Satu fenomena unik terjadi selama tiga hari ujian berlangsung. Ketegangan terbesar sebanarnya tidak dirasakan oleh para siswa, melainkan oleh para wali dan para pembina. Ustadz dan ustadzah yang duduk di belakang penguji mengaku jantung mereka berdebar lebih kencang dari anak didiknya sendiri.

“Setiap kali murid kami salah satu huruf, rasanya seperti ada yang menusuk dada. Kami lebih takut daripada mereka yang sedang diuji,” ujar Ustadzah Latifah, salah satu pembina tahfidz, sambil tertawa kecil mengusap dadanya.

Namun yang lebih menarik adalah strategi psikologis yang dilakukan oleh para penghafal cilik ini. Beberapa dari mereka dengan percaya diri mengatur tempat duduk orang tua mereka sendiri, meminta mereka duduk agak lebih jauh. Bukan karena tidak hormat, melainkan karena kehadiran orang tua—dengan segala ekspresi khawatir dan cemasnya—justru membuat mereka tegang dan kurang bisa rileks. Bahkan, ada beberapa siswa yang secara jujur menyampaikan bahwa mereka lebih nyaman jika orang tua tidak hadir menyaksikan ujian secara langsung.

Namun di sisi lain, sebagian besar siswa justru sangat menginginkan kehadiran orang tua. Bagi mereka, Munaqosyah adalah perhelatan luar biasa yang harus disaksikan oleh orang yang paling mereka cintai. Dua kubu ini sama-sama memiliki alasan baik. Keduanya adalah bentuk cinta yang berbeda: ada yang ingin membuktikan kemandirian, ada yang ingin berbagi kebahagiaan.

Baca juga : Ciptakan Guru Al Quran Berstandar, SDIT Al Ibrah Gelar Pelatihan Tajwid Metode Fitrah

Fakhri, Ara, dan Qutby: Tiga Wajah Satu Rasa Percaya Diri

Di sela ketegangan. munaqosyah juga menjadi panggung bagi karakter-karakter istimewa. Ada Fakhri, siswa program takhassus yang tak asing lagi di panggung lomba Pildacil. Dengan intonasi dan penghayatan yang matang, Fakhri melantunkan ayat-ayat panjang seolah ia sedang bercerita. Ekspresinya hidup, tangannya sesekali bergerak mengikuti makna. Para penguji tersenyum; mereka tahu bahwa di depan mereka sedang tumbuh seorang dai cilik penjaga kalam Ilahi.

Lalu ada Ara, ananda dengan tutur kata super kalem dan santun dalam bicara sehari-hari ini, ternyata begitu ia berdiri di depan publik untuk mengikuti ajang pildacil maupun menjadi pembawa acara menunjukkan rasa percaya diri dengan suara lantang dan inspiratif.

Namun yang paling membuat ruangan tersenyum adalah Qutby. Putra seorang pelaut ini membawa semangat samudra ke dalam ruang ujian. Qutby tampil dengan percaya diri penuh, santai, tanpa beban. Ia tidak terlihat grogi. Bahkan ketika berhenti sejenak mengingat satu ayat, ia hanya tersenyum, menghela napas, lalu melanjutkan seolah tidak ada yang salah. Kehadirannya seperti angin laut yang segar di tengah ruang yang mencekam.

Semoga Allah memberkahi mereka, keluarga, para guru dan SDIT AL IBRAH tercinta. Semoga setiap ayat yang dilantunkan menjadi cahaya di dunia, penerang di kubur, dan mahkota bagi kedua orang tua di surga.

Dari Gresik, SDIT Al Ibrah terus mengukir sejarah. Bukan sejarah tentang gedung megah atau fasilitas mewah, tetapi tentang generasi yang hatinya bergetar setiap kali mendengar firman-Nya. Selamat kepada seluruh peserta Munaqosyah. Perjalanan kalian baru saja dimulai. Teruslah terbang tinggi, wahai para Bintang Generasi Penjaga Kalam Ilahi. (*)