Refleksi Pendidikan di Stadium General SDM Al Ibrah
Penulis : Janan, S.Pd. (Kepala SDIT Al Ibrah)
GRESIK — Dalam suasana hangat penuh kebersamaan, kegiatan Stadium General dan Halalbihalal SDM Al Ibrah yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 April 2026 di Masjid Baitul Quran SMPIT Al Ibrah mengupas refleksi mendalam tentang arah pendidikan masa depan.
Acara tersebut Menghadirkan narasumber Ario Muhammad, PhD (Founder of Edufic & Main Nalar). forum ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang perenungan strategis tentang tantangan global dan peran pendidikan dalam menjawabnya.
Dalam pemaparannya, Ario Muhammad membuka dengan sebuah kesadaran penting: perubahan besar tidak pernah terjadi secara instan. Ia menegaskan bahwa untuk melakukan perubahan yang hakiki, dibutuhkan proses panjang dalam menyiapkan generasi. Pendidikan bukanlah proyek jangka pendek, melainkan investasi peradaban yang memerlukan kesabaran, konsistensi, dan visi jauh ke depan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak bergerak secara netral. Ada kekuatan-kekuatan besar yang secara tidak langsung membentuk arah kehidupan manusia modern. Salah satu contohnya adalah industri pornografi global yang nilainya mencapai sekitar 1620 triliun rupiah. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi menjadi indikator bagaimana arus informasi dan hiburan dapat memengaruhi pola pikir, moralitas, dan perilaku masyarakat, termasuk generasi muda.
Di sisi lain, tantangan sosial juga semakin kompleks. Masyarakat cenderung bergerak ke arah individualisme, di mana relasi antar manusia menjadi semakin renggang. Media sosial yang semestinya menjadi alat koneksi justru seringkali mendorong perilaku konsumtif melalui bombardir iklan yang masif. Akibatnya, banyak individu yang lebih fokus pada kesenangan instan, namun kehilangan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya.
Kondisi ini diperparah dengan tingkat literasi di Indonesia yang masih relatif rendah. Berdasarkan hasil PISA (OECD), kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Sementara itu, laporan World Bank menunjukkan bahwa tingkat learning poverty di Indonesia masih cukup tinggi, yang berarti banyak anak belum mampu memahami bacaan sederhana dengan baik.
Data dari UNESCO juga menegaskan bahwa tantangan literasi di Indonesia tidak hanya terletak pada kemampuan membaca, tetapi juga pada rendahnya budaya literasi. Bahkan, dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia sempat berada di posisi bawah dalam daftar negara dengan tingkat literasi dunia.
Rendahnya literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan secara bijak. Di sinilah pendidikan memiliki peran krusial sebagai titik awal perubahan umat. Sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut, perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari perubahan dalam sistem pendidikan.

Menariknya, Ario Muhammad juga menyoroti bahwa tingkat kecerdasan tertinggi bukan sekadar kemampuan menghafal atau memahami, melainkan kemampuan metacognitive—kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikir itu sendiri. Individu dengan kemampuan ini mampu mengevaluasi cara mereka belajar, memahami kekuatan dan kelemahan diri, serta mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam menghadapi persoalan hidup.
Dalam konteks pembangunan pendidikan di Indonesia, tantangan juga datang dari latar belakang keluarga. Data menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua di Indonesia berada di peringkat 9 dari 12 negara di Asia Tenggara. Hal ini tentu berdampak pada pola asuh dan dukungan pendidikan di rumah. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk generasi yang unggul.
Di ranah sekolah, kualitas pengajaran menjadi faktor penentu. Namun, yang lebih penting bukan hanya teaching quality, melainkan teaching effectiveness. Guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi, tetapi juga mampu memberikan umpan balik yang berkualitas, mengelola kelas dengan baik, serta membangun hubungan yang positif dengan siswa. Relasi yang hangat antara guru dan murid menjadi fondasi penting dalam proses belajar yang bermakna.
Lebih jauh, pendidikan masa depan membutuhkan guru yang mampu mengasah critical thinking pada siswa. Kemampuan ini tidak akan tumbuh tanpa sikap open-minded. Guru perlu membuka ruang dialog, menghargai perbedaan pandangan, dan mendorong siswa untuk berpikir mandiri serta berani mempertanyakan.
Dalam menghadapi dunia yang terus berubah, arah pendidikan juga perlu menyesuaikan. Bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) menjadi salah satu fokus utama yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Bidang ini tidak hanya menyiapkan keterampilan teknis, tetapi juga kreativitas dan kemampuan problem solving yang sangat dibutuhkan di era modern.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar rutinitas harian di ruang kelas. Ia adalah medan perjuangan untuk membentuk manusia yang utuh—yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, emosional, dan spiritual.
Di tengah arus dunia yang serba cepat dan instan, Al Ibrah memilih untuk tetap berjalan dengan kesadaran: bahwa membangun manusia membutuhkan waktu, kesungguhan, dan arah yang jelas. Karena sejatinya, perubahan umat tidak dimulai dari kebijakan besar semata, tetapi dari ruang-ruang belajar kecil yang penuh makna—di mana guru dan murid tumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik.
Wallahu a’lam bish shawab
Semoga bermanfaat.
Recent Comments