Penulis : Ustd. Almaidatul Istibsyaroh, S.S

Gresik, 13 Mei 2026 — Suasana belajar di rumah Tahfiz kelas 3 Takhassus SDIT Al Ibrah di Jalan Blitar Raya Nomor 46 GKB Gresik tampak berbeda dalam beberapa pekan terakhir. Setelah menuntaskan rangkaian hafalan Al-Qur’an berupa setor ulang, setor baru, dan muraja’ah klasikal, para siswa mulai disibukkan dengan penyusunan proyek maket sebagai bagian dari Sumatif Akhir Tahun (SAT) berbasis proyek yang akan dipresentasikan pada awal Juni 2026.

Kegiatan proyek dimulai setiap hari selepas istirahat kedua, sekitar pukul 12.45 WIB hingga selesai. Melalui proyek tersebut, siswa SD Terbaik ini membuat berbagai maket bangunan dan fasilitas umum, seperti sekolah, kantor polisi, rumah sakit, hingga rumah penduduk. Pembelajaran ini dirancang untuk mengenalkan lingkungan sosial secara lebih kontekstual sekaligus melatih kreativitas siswa melalui karya tiga dimensi.

Pendamping mata pelajaran sains kelas 3 Takhassus, Ustadzah Ittaqun Nisa’, mengatakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dipilih karena lebih mampu membangun antusiasme belajar siswa.

“Anak-anak lebih menyukai pembelajaran yang menarik dan memberikan tantangan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, guru terlebih dahulu menyiapkan kerangka dasar maket. Selanjutnya, siswa yang telah dibagi dalam beberapa kelompok mulai merakit dan menyusun setiap bagian menjadi bangunan utuh. Selama proses berlangsung, suasana kelas terlihat aktif dan dinamis. Para siswa tampak saling berdiskusi, berbagi tugas, dan bekerja sama agar hasil maket sesuai dengan konsep yang telah dirancang bersama.

Tak sekadar menghasilkan karya, proyek tersebut juga menjadi sarana penguatan berbagai keterampilan penting abad ke-21, mulai dari kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, hingga problem solving. Siswa Sekolah Bintang ini juga dilatih untuk teliti, sabar, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas kelompok.

Menurut guru pendamping, penilaian SAT di SD terbaik Sekolah Bintang berbasis proyek tidak hanya berfokus pada hasil akhir karya, tetapi juga mencakup proses pengerjaan dan kemampuan siswa saat mempresentasikan proyek mereka di depan guru maupun teman-temannya.

“Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh hasil belajar yang optimal, tetapi juga pengalaman berharga dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan,” tambahnya.

Kepala SDIT Al Ibrah, Ustadz Janan, S.Pd, mengapresiasi pelaksanaan SAT berbasis proyek tersebut sebagai bentuk pembelajaran yang memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

“Pembelajaran tidak hanya tentang memahami teori di dalam kelas, tetapi juga bagaimana anak-anak mampu menuangkan ide, bekerja sama, dan berani menyampaikan hasil pemikirannya. Melalui proyek seperti ini, siswa belajar menjadi pribadi yang kreatif, komunikatif, dan memiliki rasa tanggung jawab,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa terus menjadi budaya belajar di lingkungan sekolah sehingga siswa terbiasa menghadapi tantangan dengan cara yang positif dan produktif.

“Kami berharap anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi siswa yang unggul secara akademik dan hafalan, tetapi juga memiliki keterampilan hidup, percaya diri, serta mampu berkolaborasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Program pembelajaran berbasis proyek ini menjadi salah satu upaya SDIT Al Ibrah, SD terbaik dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Melalui kegiatan yang memadukan kreativitas, kerja sama, dan keberanian tampil, sekolah berharap siswa tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)